Under The Same Roof – 1


PicsArt_1430978445648

TaengSic9

Seo Joo Hyun | Cho Kyu Hyun

Chapter | Romance

Cerita ini berasal dari pemikiran saya sendiri. bila ingin meng-copy paste, diharapkan untuk menghubungi saya terlebih dahulu. Maaf kalo kurang memuaskan dan terkesan gampang ditebak hehe. Semua tokoh dalam FF ini milik Tuhan dan sesama. Jadi, dimohon untuk jangan ngebash satu sama lain. Tinggalkan komentar atau like ya^^

***

Happy reading»»»

.

.

Namaku Seo Joo Hyun, panggil saja aku Seohyun. Aku adalah satu-satunya anak perempuan dikeluargaku. Sebab kedua kakakku adalah seorang namja. Bisa dibayangkan bukan, dimanja oleh kedua Oppa yang baik hati. Tapi sayang, kedua Oppaku sudah berkeluarga. Aku lupa mengenalkan mereka pada kalian.

Oppaku yang pertama adalah Seo Siwon, ini Oppa yang paling kusayangi setelah eomma dan appaku. Usianya berbeda 5 tahun dariku, sekarang ia sudah berkeluarga dan mempunyai dua anak. Tiffany Hwang adalah istrinya, kadang aku sangat suka menceritakan masalahku kepadanya. Ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. ia bekerja sebagai presdir diperusahaan ayah kami.

Yang kedua adalah Seo Jonghyun, aku juga sangat menyayanginya. Namun terkadang sikapnya sangat menyebalkan sehingga aku sering sekali memikirkan rencana jahat agar dia bisa menghentikan sikap menyebalkannya itu. Ia juga sudah mempunyai istri, Im YoonA. Terkadang Yoona unnie sama seperti Jonghyun Oppa, menyebalkan.

Seo JungSoo dan Kim Taeyeon, itu adalah nama ayah dan ibuku. Kalian mengira, hidupku bebas dan bisa melakukan apa saja bukan? Mustahil! Justru aku terkadang suka dikekang, mengingat aku satu-satunya anak perempuan dikeluargaku, sehingga mereka sangat menyayangiku. Tapi ini berlebihan, bayangkan aku hanya mengunjungi rumah temanku saja mereka sudah sangat khawatir. Padahal usiaku sudah bukanlah anak-anak lagi, 20 tahun.

Memang, diusia seperti ini sudah saatnya untuk menyukai lawan jenis – bukan, maksudku sudah saatnya hubungan sepasang kekasih memasuki jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Ya, pernikahan.

Seperti saat ini, ketika semua keluargaku berkumpul dalam makan malam bersama tentu saja mereka akan membahas apa saja. Mulai dari kehidupan Oppaku, bisnis perusahaan, keponakanku, dan tentunya diriku sendiri yang masih melajang dan belum menikah.

“Seohyunie, kau sudah berumur 20 tahun dan itu artinya?” tanya Appa disela-sela makan malam bersama. Aku yang merasa dipanggil, mendongakkan kepalaku dan menatap Appa. Memangnya kenapa?

“Kenapa Appa? Memangnya ada apa diusia 20tahun?” tanyaku bingung. Sebenarnya aku tidak bingung, hanya saja berakting seolah-olah aku ini bingung. Aku tahu kemana arah Appa membicarakan hal ini

“Kau harus segera menikah, Seohyun. Mau sampai kapan kau seperti ini?” ujar Siwon Oppa kepadaku.

Memangnya kenapa jika aku belum menikah? Tidak baik menikah terlalu dini, begitu kalimat yang sering kubaca dibuku pengetahuanku.

“Ah, untuk apa menikah dini? Tidak baik menikah diusia dini Oppa, lagipula aku belum mempunyai pasangan yang tepat untukku. Jadi, untuk apa harus terburu-buru? lagipula jodohku akan datang dengan sendirinya, kalian tidak usah khawatir.” tanyaku santai.

PLAK.

“aduh, appo. Yak Oppa! kenapa kau menjitakku?” tanyaku kepada Jonghyun Oppa yang menjitakku tiba-tiba. Menyebalkan.

“tanyakan pada dirimu” ujarnya enteng sambil kembali mencomot snack dihadapannya.

“Kau tidak usah repot untuk mencari pendamping, Seohyun-ah. Eomma dan Appa sudah menyiapkan calon suamimu. Jung Yonghwa.” Kini ibuku membuka suara, turut andil dalam obrolan ini.

Aku yang semula santai memakan makananku, tiba-tiba tersedak karena mendengar nama Jung Yonghwa,

“APA?!” ujarku membelalakan mata. Sudah cukup aku dipaksa untuk menikah, dan sekarang? Dijodohkan?

“Aku tidak mau, eomma appa! Yonghwa sangat mesum! Pokoknya Seohyun tidak mau!” ujarku sambil terbawa emosi. Ya, Yonghwa adalah salah satu anak dari kerabat ayahku. Memang tampan, tapi sangat mesum. Bayangkan saja, semua percakapan ia anggap sebagai bahan guyonan vulgar. Dan saat itu poin 100 untuknya langsung turun derastis ke angka 10.

“Mesum bagaimana? Ia baik, tampangnya juga lumayan, kaya. Kurang apalagi Seohyun? Dia cocok denganmu. Besok kau harus atur jadwal untuk berkencan dengannya.”

“Tidak mau. Lebih baik aku harus sendiri daripada menjadi istri dari namja seperti itu. Baik apanya? Mesum iya.” Jawabku seenak jidat.

“Kau harus berdandan cantik besok.”

“Tidak.”

“Seohyun..”

“Aku tidak mau! Tidak sudi!”

“Baiklah..” ayahku menghela napasnya pelan.

“Kau akan menikah dengannya dua minggu lagi.”

“APA?!”

“Tidak ada penolakan. Dan tidak ada tapi-tapian.”

Dengan kesal, aku segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar tidurku yang terletak dilantai dua. Aku bahkan menghentak-hentakan kakiku saat menaiki tangga. Pertanda bahwa aku sedang sangat kesal sekarang. Mengapa sih pikiran ayah dan ibuku terlihat kolot? Apa ia senang bila anaknya tinggal satu atap bersama orang asing?

Aku memang menyayangi mereka, dan juga tidak ingin melihat mereka sedih. Tapi haruskah aku menikah disaat kondisi yang tidak tepat? Terlebih aku sedang kuliah saat ini. Apa jadinya bila aku pergi ke universitas dengan perut yang membesar nanti? Ah, membayangkannya saja sudah tidak kuat, bagaimana mengalaminya.

Saat ini, aku sudah memasuki semester ketiga difakultas kedokteran. Impianku adalah menjadi seorang dokter, impian itu muncul ketika aku berumur delapan tahun. Saat itu aku terjatuh dari pohon dan menyebabkan cedera ringan dikakiku. Dan saat itu, menjadi dokter sangat menyenangkan pikirku.

Dengan kesal, aku menutup pintu kamarku dengan keras agar mereka tahu bahwa saat ini seorang Seohyun sedang marah dan kesal. Aku langsung mengambil handphoneku yang tergeletak diatas meja. Dengan telaten aku menyentuh tombol-tombol dilayar. Dan saat itu, tiba-tiba akal sehatku bekerja.

Aku segera mengambil secarik kertas dan pulpen, menulis dan menyusun rencanaku. Dan kuharap ini berhasil. Rencana yang terlintas adalah, menyetujui pernikahan dan kabur sebelum acara pemberkatan dimulai. Selesai.

Pertama, aku menyusun barang-barang yang harus kubawa. Baju – tepatnya, uang tunai, kartu atm, kartu kredit, aksesoris, handphone – yang sudah pasti, dan satu lagi aku harus mengumpulkan semua niatku untuk melaksanakan rencana ini. Ini termasuk mudah bagiku, memngingat aku senang sekali memanjat. Jadi, tidak usah panik bila kamar rias ada dilantai atas bukan?

Tapi, hati nuraniku berkata tidak. Bila seandainya aku kabur nanti, otomatis ayah dan ibu akan kesepian. Dan mereka akan tinggal sendiri dalam rumah yang sangat besar. Dan aku tidak tega membayangkan hal itu. Sekilas, aku merasakan dilema antara kabur dengan resiko ayah dan ibu sendiri dirumah atau menikah dengan Yonghwa, pria yang aneh menurutku?

Omong-omong soal pernikahan, sejujurnya ibuku tidak begitu menyutujui rencana gila ayah. Ia masih belum merelakan putrinya menjadi milik orang lain. Tapi yang namanya istri, harus tetap mengikuti kemauan seorang suami. Otomatis, ibu menjadi luluh hatinya dan setuju jika aku menikah dengan pria itu. Sebab menurut ibu, Yonghwa adalah pria baik-baik.

Lagipula, untuk apa menikah tanpa cinta? Aneh. Dan aku tidak percaya akan cinta. Cinta adalah reaksi biokimia yang terjadi karena adanya rangsangan bawah sadar manusia untuk berkembang dan mempunyai keturunan. Adapun semacam ramuan cinta bernama oksitoksin, kadang bisa terjadi bila ada rasa nyaman terhadap lawan jenis.

Aku bahkan menyimpulkan bahwa cinta hanya membuat manusia menjadi kacau, sedih dan depresi. Kehilangan cintana kadang membuat sebagian besar manusia kehilangan akal sehatnya. Bagiku, masih ada berjuta-juta namja atau yeoja didunia ini. Kenapa susah sekali merelakan satu orang saja? Seperti itulah yang sering dialami oleh temanku, putus hubungan dan berdampak pada menurun nilai mata kuliahnya.

Tapi, tekad tetap tekad. Seorang Seo Joo Hyun akan terus mengikuti rencana gilanya. Bagaimanapun caranya. Dan sekarang, aku memilih untuk kabur dari pesta pernikahan. Demi kebaikanku juga. Dan satu lagi, tidak ada cinta yang tumbuh nantinya!

Tok. Tok. Tok

Aku menggerutu, siapa lagi yang mengetok pintu kamar? Mengganggu rencana saja. Dengan tergesa-gesa aku segera membereskan semua perlengkapanku. Dan saat hendak membuka pintu,

“Seohyun-ah, eomma hanya ingin bilang bahwa Yonghwa akan mengajakmu kencan hari ini.” Teriak eomma dari luar kamar. Aku yang sedang sibuk membereskan barang-barangku langsung berteriak sekeras mungkin,

“AKU TIDAK MAU BERKENCAN!”

Kembali lagi, aku melihat kalender di dindingku. Bagus Seohyun, acara pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, tandanya aku harus secepat mungkin menyempurnakan rencana ini. Aku langsung membuka lemari, dan mengambil koper dari dalam. Memasukkan semua baju yang ada dilemari – tidak semua, tapi yang penting saja kedalam koper, pakaian dalam, baju rumah, baju pergi. Sudah siap.

Tak lupa aku mengambil sepatu flatshoes serta sneakersku dan memasukkannya juga kedalam koper. Dan juga aksesoris berhargaku. Aku tidak ingin begitu aku kembali kesini, semua koleksi kalungku hilang entah kemana.

Lalu aku menyiapkan tas tentengku, memasukkan semua handphone, dompet, kartu atm dan kartu kredit. Dan tak lupa tali tambang, diperlukan apabila kamar riasku nanti terletak dilantai atas.

Tak terasa, sore pun berganti malam. Dan waktunya aku untuk tidur, walaupun aku belum mengantuk sama sekali. Aku takut bila ibuku memasuki kamarku tiba-tiba dan melihat diriku yang belum terlelap. Ibu selalu memperhatikan jam tidurku, jam makanku atau apapun itu. Ia tidak ingin anak perempuannya sakit, sebab aku satu-satunya anak perempuan disini.

“Seohyun, kau sudah tidur?”

Tepat kataku, terbuktikan? Eommaku mengendap masuk ke kamarku, itu kegiatan rutin yang ia lakukan tiap malam. Dan untungnya diriku sudah siap bersembunyi dibalik selimut yang menutupi bagian tubuhku dari kaki hingga kepala, seperti kepompong.

“Baguslah, kuharap kau berubah pikiran dan mau menikah dengan Yonghwa. Jaljayo, I love you.” Ucapnya sebelum menutup pintu kamarku.

***

Tak terasa, dua minggu ternyata hilang begitu cepat. Dan aku harus menghadapi kenyataan bahwa besok adalah hari sialku. Dan sekarang aku harus pergi ketempat baju pengantin untuk mengambil gaun pengantinku serta tuxedo Yonghwa. Dan, ini semua ibuku yang memaksa, mengingat sebelumnya aku selalu menolak ajakan ‘kencannya’. Baiklah, jadilah Seohyun penurut, setidaknya terakhir kali sebelum kau bebas dari namja keparat ini.

“Aku ingin kau mencoba gaunnya kembali, Seohyun.” Ujar Yonghwa sambil menggenggam tanganku erat. Tahan Seohyun, tahan. Kau harus bisa menjadi wanita baik, sehari saja. Ah tidak sampai besok.

“Untuk apa? Bukankah aku sudah mencobanya saat itu?” tanyaku malas. Mengapa sih, namja ini membuat darahku mendidih?!

“Ayolah! Ehm, bisakah kau jangan membungkus gaun ini? Calon istriku akan mencobanya sekali lagi.” Pinta Yonghwa kepada salah satu petugas toko itu. Aku mendengus sebal, apa katanya? Calon istri? Cih, aku bahkan tak sudi menganggapmu sebagai calon suamiku, memikirkannya saja sudah muak.

“Bagaimana? Kau puas?” ujarku ketus sambil memperlihatkan tubuhku yang berbalut gaun ini. Matanya astaga, sama sekali tidak berkedip. Oh ayolah Yonghwa-ssi, aku tahu aku cantik. Tapi bisakah tidak seperti ini?

Gaun ini sangatlah terbuka – menurutku, bahkan belahan dadaku terlihat sempurna. Kurasa Yonghwa sengaja memilih ini. Gaun yang tidak lebih dari selutut. Karena tidak pernah memakai seperti ini, aku merasa diriku nyaris telanjang.

“Sudah, aku ingin mengganti kembali.” Ujarku sambil membalikkan badanku dan menutup pintu ‘fitting room’.

Akhirnya, setelah mengambil baju pernikahan kami. Yonghwa mengajakku untuk mengunjungi pusat perbelanjaan,

“Kau sangat cantik tadi” ujarnya sambil memujiku. Aku hanya membalasnya dengan senyum hambar. Tidak ada kata terima kasih. Cukup senyuman, ku yakin ia sudah berbunga-bunga saat ini.

“Kau mau ice cream?” tanyanya sambil menunjuk kios penjual ice cream. Aku ingin, tapi..

“Ayo!” ujarnya sambil menarik tanganku.

“Kau mau apa?”

“Aku vanilla, biar aku saja yang membayar.” Tawarku.

“Tidak usah, seorang calon suami harus membayar keperluan istrinya.” Ujarnya sambil tersenyum. Itu menggelikan.

“Terserah kau saja.”

Akhirnya malampun tiba, dan mobil Yonghwa sudah sampai dirumahku. Sebetulnya ia ingin berkunjung kerumah, namun aku cepat-cepat menolaknya secara halus. Aku tidak ingin ia bersikap menjijikan dihadapan Oppaku dan orangtuaku. Tidak bagi mereka, tapi menjijikan bagiku.

“Wah, ternyata putri Appa sudah mencintai Yonghwa? Kemana saja kalian hingga pulang malam? Bagaimana kencannya? Lancar?” tanya ayahku saat melihatku pulang dengan membawa belanjaan banyak.

Mengapa ayah tidak marah? Malah, aku mengharapkan agar dia marah dan menyuruhku untuk tidak seperti itu lagi, dan kesempatan emasku bisa mem-provokatorkan Yonghwa dan aku tidak menikah dengannya besok. Tapi yang kudapat hanya sebuah godaan manis dari ayah dan Oppaku.

“Oh, adik kecilku sudah mulai menerima Yonghwa ya? Baguslah. Berarti besok tidak perlu repot-repot untuk memaksamu bangun pagi bukan?” goda Siwon Oppa sambil mengerlingkan matanya.

“Terserah apa kata kalian, aku lelah.” Ujarku sambil menaiki tangga.

Sesampainya ditangga, aku segera melemparkan semua barang-barang yang dibelika Yonghwa, jika bisa dilakukan maka saat ini aku sudah memuntahkan ice cream itu. Menyebalkan!

“Sayang, besok kau harus berdandan cantik ya.”

“Aku tidak sabar akan memperistrimu besok, hyunnie”

“Bolehkah aku menciummu?”

“Kau sangat seksi menggunakan gaun tadi.”

“ARGH! KAU MENYEBALKAN, JUNG YONGHWA!” teriakku dengan suara tertahan. Aku tidak mau bila mereka mendengar lalu akhirnya menguping dipintu kamarku. Sangat aneh.

Menciummu? Kupastikan, dunia akan kiamat bila aku mencium dirimu Yonghwa. Benar aku seksi, aku bahkan merasa seperti telanjang memakai gaun itu. Menyebalkan. Akan kubunuh kau hidup-hidup jika bisa.

***

Hari sialpun tiba, aku membawa koperku dan mengenakan gaun maksiat ini. Aku memandang pantulan diriku dicermin ini, masih belum mengenakan riasan apapun. Hanya mengenakan gaun pengantin.

Dan tibalah saatnya, ketika aku harus diriaskan oleh para penata rias. Aku hampir menitikkan air mata melihat sialnya nasibku. Cantik tapi sial, ya itulah diriku sekarang. Menikah dengan namja yang tidak begitu kukenal. Yang benar saja.

Kini, aku menatap sedih diriku dipantulan cermin ini. Gaun minim dengan belahan dada yang terlihat, riasan natural dengan lipstik pink yang tidak begitu kentara, rambut coklat ikalku yang digerai, sepatu kaca yang dihadiahkan orangtuaku pada ulangtahunku yang ke-20, dan kalung platina pemberian ibuku. Sempurna bila kalian melihatnya, tapi bagiku tidak.

Tiba-tiba aku panik, hampir lupa akan rencanaku. Gawat, aku segera mengambil tali rafia. Benar kataku, kamar rias terletak dilantai atas. Tak lupa aku mengenakan celana pendek putih serta mantel untuk menutupi diriku.

Gotcha! Aku siap menurunkan diriku. Tak peduli resikonya, aku siap.

Setelah berhasil, aku langsung menarik koperku dan membawa tas ku lalu pergi dari tempat maksiat itu, sebelumnya kutuliskan sebuah surat untuk orangtuaku. Aku menyesatkan mereka dengan berkata bahwa aku akan pergi keluar negeri. Padahal diriku masih menetap di Seoul.

Untuk ibu dan ayahku, dan juga Oppaku tersayang.

Maafkan aku, aku akan pergi ke luar negeri. Sejujurnya, aku belum siap untuk menikah dengan siapa-siapa. Bahkan dengan namja tertampan didunia pun aku belum siap. Dan aku tidak ingin menikah dengan Yonghwa atau siapa-siapa. Kuharap eomma, appa dan oppa dan juga eonni mengerti hal ini. Aku akan kembali, jika aku merasa lebih baik. Anggap saja aku pergi berlibur dan melanjutkan studiku. Sekali lagi, maafkan Seohyun. Jangan mencariku.

Putri dan adik kalian yang nakal,

Seo Joo Hyun.

 

Aku tidak langsung meninggalkan tempat itu, namun lima belas menit sesudah aku kabur dari pesta. Terdengar suara panik ayah dan ibu yang memberitahukan bahwa diriku kabur entah kemana. Merasa situasi sudah mulai tidak aman, aku segera meninggalkan tempat itu dan..

“Oh! Astaga! Maafkan aku, agasshi! Kau tidak apa-apa?” tanyaku saat aku menabrak seorang namja. Dilihat dari pakaiannya, ia mengenakan tuxedo. Sepertinya ia mengalami nasib yang sama denganku?

“Aku tidak apa-apa” ujarnya sambil membantuku berdiri.

“Kau pengantin? Kau kabur?” ujarnya seakan menebak situasi diriku saat ini. Tamatlah, mungkin ini salah satu suruhan ayahku. Tamatlah.

Dengan tiba-tiba, ia langsung menarik tanganku kasar dan pergi menjauhi lokasi pernikahan itu.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

HAAH selesai juga buat FF nya. Maaf kalo ga terlalu panjang karena emang aku kalo nulis FF itu rata rata cuman nyampe 8-9-10 halaman. Sorry for typo. Dan maaf kalo alurnya kecepetan. Jangan lupa comment ya!